Senin, 15 Oktober 2018

STUDI KASUS PEMASARAN GLOBAL PADA INDOMIE


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Indonesia sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati pada komoditi ekspor, diharapkan dapat menambah lengkapnya informasi, wawasan, pengetahuan dan kompetensi bagi sumber daya manusia yang menangani bidang ekspor dan impor yang tentunya sangat diperlukan sebagai upaya persiapan memasuki perdagangan /pasar bebas dan era perekonomian global. Permasaran internasional merupakan salah satu bagian dari kegiatan bisnis yang akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Di tengah kompetisi dalam bisnis internasional, sebuah perusahaan harus pintar membuat strategi pemasaran yang baik untuk produknya. asaran yang baik untuk produknya. Pada produk makanan, brand image sangatlah penting didalam benak konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Brand image adalah sejumlah citra dan pengalaman dalam benak konsumen yang mengkomunikasikan manfaat yang dijanjikan produk yang diproduksi oleh perusahaan tertentu (Keegan et al., 1995:318). Jika suatu produk makanan instan memiliki citra yang positif dari konsumen, maka peluang terjadinya keputusan pembelian sangat tinggi. Keputusan pembelian sendiri merupakan pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia haru memiliki pilihan alternatif, jika konsumen tidak memiliki alternatif pilihan maka hal tersebut bukan termasuk dalam situasi konsumen mengambil keputusan (Sumawarman 2014:357). Tak hanya itu saja perusahaan juga harus memperkenalkan produknya agar dikenal oleh masyarakat seperti melalui iklan. Persaingan bisnis internasional ini juga dipermudah dengan canggihnya teknologi sebagai media promosi iklan yang ditayangkan di berbagai media seperti televisi. 
Iklan adalah penyampaian pesan yang disponsori oleh perusaaan yang ditransmisikan melalui media massa (Subhash, 2001:131). Melalui iklan, produk Indomie dapat diketahui target pasar dalam jangkauan luas sehingga menciptakan citra merek (brand image). Iklan yang baik harus bisa mebuat citra yang baik pada produknya sehingga konsumen yang melihat iklan tersebut tertarik dengan iklan yang ditayangkan. Tapi pada umumnya dalam hal produk makanan instan, cita rasa juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Konsumen akan memilih produk makanan jika sesuai dengan lidah atau seleranya. 
Perusahaan di bidang makanan instan berlomba-lomba membuat inovasi dalam berbagai varian rasa yang diminati oleh konsumen. Jika konsumen menyukai cita rasa dari produk mi instan tersebut tak menutup kemungkinan konsumen akan melakukan keputusan pembelian. Berbicara mengenai persaingan makanan instan dalam bisnis internasional, Indonesia memiliki industri makanan instan yang terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional, salah satunya yaitu mi instan. Sesuai survei yang sudah dilakukan oleh world-grain dikutip dari ketahui.com PT.Indofood memproduksi mi instan terbesar di dunia salah satunya yaitu mie instan merek Indomie. Indomie merupakan mi instan yang memiliki cita rasa terbaik di dunia. Berdasarkandata dari instantnoodles.org Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam permintaan mi instan terbanyak. Pada tahun 2012 mencapai 14,750 juta bungkus, pada tahun berikutnya 2010 mengalami kenaikan mencapai 14,900 juta bungkus, sedangkan pada tahun 2014 - 2016 mengalami penurunan. lndomie bukan hanya dikenal di negara tetangga Indonesia seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong hingga Taiwan, namun saat ini Indomie sudah menjangkau lebih dari 80 negara, baik di Eropa, Timur Tengah, Afrika hingga Amerika. Di Sudan dan Libanon, Indomie hampir ada di setiap toko ritel dan super market. Bahkan, PT. Indofood juga membangun pabrik di sejumlah negara, seperti di Malaysia, Nigeria, Suria, Mesir, hingga Saudi Arabia.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN PEMASARAN GLOBAL
Menurut Keegan (1995) pemasaran global yaitu sebagai proses memfokuskan sumber daya (manusia, uang, dan aset fisik) dan tujuan-tujuan dari suatu organisasi untuk memperoleh kesempatan dan menanggapi ancaman pasar global. Selanjutnya Keegan menyatakan bahwa untuk dapat menang bersaing di pasar global perusahaan harus menjalankan tiga prinsip dasar pemasaran. Prinsip pertama adalah penciptaan nilai (value) bagi pelanggan. Perusahaan harus mampu memberikan nilai bagi pelanggan yang lebih besar daripada nilai yang dapat diberikan oleh pesaing.

2.2 STRATEGI PEMASARAN GLOBAL
Penawaran total (total offering) yang diberikan perusahaan kepada pasar sasarannya hams mencakup setidak-tidaknya empat aspek, yaitu: produk yang disediakan, harga yang ditetapkan bagi produk tersebut, cara mempromosikan produk ke pasar yang dibidik, dan cara menyampaikan produk kepada pasar sasaran (aspek distribusi). Griffin dan Pustay (1996) mengemukakan bahwa dalam merancang produk perusahaan harus mampu mengembangkan aspekaspek berwujud (tangible) dan tak-wujud (intangible) &dam produk agar memenuhi kebutuhan konsumen di pasar global. Dalam ha1 harga; perusahaan harus dapat mengembangkan kebijakan harga yang memberikan pendapatan yang bagus bagi perusahaan tanpa mengabaikan lingkungan persaingan yang ada. Menyangkut aspek promosi, perusahaan perlu merancang strategi yang dapat meningkatkan minat konsumen terhadap produk danlatau jasa yang disediakan perusahaan. Akhirnya, dalarn ha1 distribusi perusahaan harus memikirkan cara-cara untuk menyampaikan produk danlatau jasanya ke tangan konsumen secara efektif dan efisien.

Griffin dan Pustay (1996) selanjutnya menegaskan bahwa dalam menyusun strategi pemasaran global ada tujuh faktor kunci yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1. Standardisasi atau kustomisasi
2. Hukum dan ketentuan yang berlaku di suatu negara
3. Faktor ekonomi (tingkat pendapatan)
4. Nilai tukar mata uang
5. Pelanggan sasaran, industri atau konsumen akhir
6. Pengaruh budaya
7. Persaingan.
Dengan mengingat ketujuh faktor di atas, strategi pemasaran global dapat disusun.

2.3 MEREK
Merek adalah produk atau jasa yang dimensinya mendiferensiasikan merek tersebut dengan beberapa cara dari produk atau jasa lainnya yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan yang sama. Perbedaan ini bias fungsional, rasional dan nyata, berhubungan dengan kinerja produk dari merek. Perbedaan ini bisa juga lebih bersifat simbolis, emosional, atau tidak nyata, berhubungan dengan apa yang dipresentasikan oleh merek (Kotler & Keller, 2012:263). Aaker (1991: 2) menjelaskan bahwa Merek adalah cara membedakan sebuah nama atau simbol seperti logo, trademark, atau desain kemasan yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari satu produsen atau satu kelompok produsen dan untuk membedakan produk atau jasa itu dari produsen pesaing.
Menurut Kotler & Keller (2006:264), element dari merek adalah nama, simbol, logo, desain, dan kemasan. Menurut Sutisna (2001 : 83), ada beberapa manfaat dari brand image yang positif, yaitu :
a)      Konsumen dengan image yang positif terhadap suatu brand, lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
b)      Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan image positif yang telah terbentuk terhadap brand produk lama.
c)      Kebijakan family branding dan leverage branding dapat dilakukan jika brand image produk yang telah ada positif

2.4 IKLAN
Menurut Peter, Olson (2000:181) iklan (advertising) adalah penyajian informasi nonpersonal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko yang dilakukan dengan bayaran tertentu. Jefkins (1997:18) juga menjelaskan bahwa iklan merupakan media informasi yang dibuat sedemikian rupa agar dapat menarik minat khalayak, orisinal, serta memiliki karakteristik tertentu dan persuasif sehingga para konsumen secara suka rela terdorong untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan yang diinginkan pengiklan.


2.5 CITA RASA
Dalam hal produk makanan khususnya makanan instan, cita rasa dari sebuah produk ikut mempengaruhi keputusan pembelian. Dalam persaingan bisnis internasional bidang industri makanan instan perusahaan dituntut untuk meberikan inovasi-inovasi dalam berbagai varian rasa sesuai permintaan konsumen. Drummond KE & Brefere LM (2010) mendefinisikan bahwa cita rasa adalah suatu cara pemilihan makanan yang harus dibedakan dari rasa (taste) makanan tersebut. Cita rasa merupakan atribut makanan yang meliputi penampakan, bau, rasa, tekstur, dan suhu.

2.6 PERILAKU KONSUMEN

Banyak pengertian perilaku konsumen yang dikemukakan para ahli, salah satunya yang didefinisikan oleh Engel dan kawan-kawan (1994) yang mengatakan bahwa perilaku konsumen didefinisikan sebagai suatu tindakan yang langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi serta menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan penyusuli tindakan tersebut. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa perilaku konsumen tadi terbagi dua bagian, yang pertama adalah perilaku yang tampak, variable-variabel yang termasuk ke dalamnya adalah jumlah pembelian, waktu karena siapa, dengan siapa dan bagiamana konsumen melakukan pembelian. Yang kedua adalah perilaku yang tak tampak, variable-variablenya antara lain adalah persepsi, ingatan terhadap informasi dan perasaan kepemilikan oleh konsumen.

2.7 KEPUTUSAN PEMBELIAN
Menurut Suharno (2010:96) keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta mengkonsumsinya. Hal ini berkaitan dalam usahanya memenuhi kebutuhan dengan tahap yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, yaitu sebagai berikut:
1.      Faktor Budaya, faktor budaya seseorang mempengaruhi perilaku mereka dalam mencari, menyelesaikan dan mengkonsumsi suatu produk, secara mendalam dan konsisten.
2.      Faktor Sosial, merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang terbentuk dan berasal dari lingkungan sekitar. Aktivitas sosialisasi seseorang dengan orangorang disekelilingnya sehari-hari akan membentuk pola perilaku yang khas pada masyarakat.
3.      Faktor Pribadi, faktor pribadi yang mempengaruhi perilaku pembelian adalah usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup dan personalitas.
4.      Faktor Psikologis, faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri seseorang dan mementukan bagaimana mereka memilih dan mengkonsumsi produk. Pemasar perlu memahami faktor psikologis, yang terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran, dan keyakinan dan sikap.

BAB III
ANALISIS KASUS
3.1 KONSEP INDOMIE
 Indomie diklaim sebagai makanan yang sehat dan bergizi oleh produsennya. Produk mi instan ini disebut memiliki berbagai kandungan gizi seperti energi, protein, niasin, asam folat, mineral zat besi, natrium, dan berbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B6, dan B12. Meskipun begitu, konsumsi Indomie yang terlalu sering tidak dianjurkan, sebab Indomie mengandung pewarna tartrazine yang tidak baik bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.
          Selain dipasarkan di Indonesia, Indomie juga dipasarkan secara cukup luas di manca negara, antara lain di Amerika Serikat, Australia , berbagai negara Asia dan Afrika  serta negara-negara Eropa , menjadikan Indomie sebagai salah satu dari segelintir produk asli Indonesia  yang mampu menempus pasar internasional. Di Indonesia sendiri, sebutan “Indomie” sudah umum dijadikan istilah generik yang merujuk kepada mi instan.
          Harga Indomie yang ekonomis dan cita rasanya yang telah disesuaikan dengan selera Indonesia membuat produk mi instan ini sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan, tidak jarang warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri membawa Indomie untuk mengatasi masalah ketersediaan makanan yang praktis dan sesuai dengan selera Indonesia. Kepraktisan dalam penyajiannya dan mudahnya pendistribusian membuat Indomie menjadi andalan warga Indonesia  saat terjadi tragedi bencana alam  untuk mengatasi masalah keterbatasan dan kelangkaan bahan pangan di lokasi dengan segera.

3.2 VISI DAN MISI
Visi
“To Become a Total Food Solutions Company”
Visi Indofood adalah visi yang jelas dimana PT Indofood berusaha untuk selalu total dalam operasinya dan memberikan solusi dari kebutuhan yang ada.
Misi
1.        Untuk terus meningkatkan rakyat kami, proses dan teknologi kami
2.        Untuk menghasilkan kualitas tinggi, inovatif, dan produk terjangkau yang disukai oleh pelanggan
3.        Untuk memastikan ketersediaan produk kami kepada pelanggan domestik maupun internasional
4.        Untuk memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas hidup orang Indonesia dengan penekanan pada gizi
5.        Untuk terus meningkatkan nilai bagi pemangku kepentingan

3.3 KEUNGGULAN INDOMIE DIBANDINGKAN MERK MIE INSTANT LAIN (VALUE PREPOSITION)
1.        Indomie menawarkan berbagai cita rasa selera nusantara dari Sabang sampai Merauke.
2.        Mie Indomie terbuat dari tepung bogasari yang dikenal bermutu tinggi
3.        Rasa bumbu yang khas dengan kualitas yang premium
4.        Komitmen dari Masyarakat terhadap Indomie, contoh:
·            Sebutan Indomie dijadikan istilah generic yang merujuk kepada semua merek mie instant di Indonesia.
·            Banyak orang membawa Indomie saat bepergian ke luar negeri, bila makanan di luar negeri tidak cocok.
·            Saat terjadi bencana alam, orang Indonesia sering menyumbang mie instant seperti Indomie.
·            Untuk beberapa orang, Indomie menjadi makanan pokok dan dimakan dengan nasi putih sebagai lauk.
·            Ekuitas Pelanggan Indomie yang Tinggi
·            Indomie memiliki harga yang terjangkau bagi konsumen, tanpa mengurangi standard kualitasnya.
·            Indomie telah memiliki brand image dan barand awareness yang sudah melekat di pikiran konsumen mie instant di Indonesia.
·            Indomie memiliki pelanggan yang setia. Kesetiaan pelanggan indomie dapat terbentuk melalui pembentukan komunitas ataupun program perlakuan khusus, contohnya: Indomie Jingle Dare dimana secara tidak langsung meningkatkan kesetiaan pelanggan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1              KESIMPULAN
Brand Indomie produk mie instan sangat melekat di Indonesia, sering terjadinya persaingan yang ketat dengan brand-brand lainnya melakukan persaingan strategi yang sangat patut diwaspadai oleh indomie. Berbagai macam rasa yang telah dikeluarkan oleh indomie dari rasa soto, cabe ijo, sambal matah, kari ayam dan lain sebagianya dengan cita rasa yang khas nusantara untuk meningkatkan ekuitas pelanggan dan komitmen masyakarat yang tinggi terhadap produk indomie.
4.2              SARAN
Menambah lagi kualitas produknya dan melakukan promosi terus-menerus untuk mengidentifikasi mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen yang heterogen, sehingga dapat mengetahui dengan jelas kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut sesuai dengan karakteristik dari masing-masing atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA