BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Indonesia
sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati pada komoditi ekspor,
diharapkan dapat menambah lengkapnya informasi, wawasan, pengetahuan dan
kompetensi bagi sumber daya manusia yang menangani bidang ekspor dan impor yang
tentunya sangat diperlukan sebagai upaya persiapan memasuki perdagangan /pasar bebas dan era
perekonomian global. Permasaran internasional merupakan salah satu bagian dari
kegiatan bisnis yang akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Di
tengah kompetisi dalam bisnis internasional, sebuah perusahaan harus pintar
membuat strategi pemasaran yang baik untuk produknya. asaran yang baik untuk
produknya. Pada produk makanan, brand image sangatlah penting didalam benak
konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Brand image adalah
sejumlah citra dan pengalaman dalam benak konsumen yang mengkomunikasikan
manfaat yang dijanjikan produk yang diproduksi oleh perusahaan tertentu (Keegan
et al., 1995:318). Jika suatu produk makanan instan memiliki citra yang positif
dari konsumen, maka peluang terjadinya keputusan pembelian sangat tinggi.
Keputusan pembelian sendiri merupakan pemilihan suatu tindakan dari dua atau
lebih pilihan alternatif. Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka
ia haru memiliki pilihan alternatif, jika konsumen tidak memiliki alternatif
pilihan maka hal tersebut bukan termasuk dalam situasi konsumen mengambil
keputusan (Sumawarman 2014:357). Tak hanya itu saja perusahaan juga harus
memperkenalkan produknya agar dikenal oleh masyarakat seperti melalui iklan.
Persaingan bisnis internasional ini juga dipermudah dengan canggihnya teknologi
sebagai media promosi iklan yang ditayangkan di berbagai media seperti
televisi.
Iklan adalah penyampaian pesan yang disponsori oleh perusaaan yang
ditransmisikan melalui media massa (Subhash, 2001:131). Melalui iklan, produk
Indomie dapat diketahui target pasar dalam jangkauan luas sehingga menciptakan
citra merek (brand image). Iklan yang baik harus bisa mebuat citra yang baik
pada produknya sehingga konsumen yang melihat iklan tersebut tertarik dengan iklan
yang ditayangkan. Tapi pada umumnya dalam hal produk makanan instan,
cita rasa juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan
pembelian. Konsumen akan memilih produk makanan jika sesuai dengan lidah atau
seleranya.
Perusahaan di bidang makanan instan berlomba-lomba membuat inovasi
dalam berbagai varian rasa yang diminati oleh konsumen. Jika konsumen menyukai
cita rasa dari produk mi instan tersebut tak menutup kemungkinan konsumen akan
melakukan keputusan pembelian. Berbicara mengenai persaingan makanan instan
dalam bisnis internasional, Indonesia memiliki industri makanan instan yang
terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional, salah
satunya yaitu mi instan. Sesuai survei yang sudah dilakukan oleh world-grain dikutip
dari ketahui.com PT.Indofood memproduksi mi instan terbesar di dunia salah
satunya yaitu mie instan merek Indomie. Indomie merupakan mi instan yang
memiliki cita rasa terbaik di dunia. Berdasarkandata dari instantnoodles.org
Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam permintaan mi instan terbanyak.
Pada tahun 2012 mencapai 14,750 juta bungkus, pada tahun berikutnya 2010
mengalami kenaikan mencapai 14,900 juta bungkus, sedangkan pada tahun 2014 -
2016 mengalami penurunan. lndomie bukan hanya dikenal di negara tetangga
Indonesia seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong hingga Taiwan, namun saat ini
Indomie sudah menjangkau lebih dari 80 negara, baik di Eropa, Timur Tengah,
Afrika hingga Amerika. Di Sudan dan Libanon, Indomie hampir ada di setiap toko
ritel dan super market. Bahkan, PT. Indofood juga membangun pabrik di sejumlah
negara, seperti di Malaysia, Nigeria, Suria, Mesir, hingga Saudi Arabia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 PENGERTIAN
PEMASARAN GLOBAL
Menurut
Keegan (1995) pemasaran global yaitu sebagai proses memfokuskan sumber daya (manusia,
uang, dan aset fisik) dan tujuan-tujuan dari suatu organisasi untuk memperoleh kesempatan
dan menanggapi ancaman pasar global. Selanjutnya Keegan menyatakan bahwa untuk
dapat menang bersaing di pasar global perusahaan harus menjalankan tiga prinsip
dasar pemasaran. Prinsip pertama adalah penciptaan nilai (value) bagi
pelanggan. Perusahaan harus mampu memberikan nilai bagi pelanggan yang lebih
besar daripada nilai yang dapat diberikan oleh pesaing.
2.2 STRATEGI PEMASARAN
GLOBAL
Penawaran
total (total offering) yang diberikan perusahaan kepada pasar sasarannya hams
mencakup setidak-tidaknya empat aspek, yaitu: produk yang disediakan, harga
yang ditetapkan bagi produk tersebut, cara mempromosikan produk ke pasar yang
dibidik, dan cara menyampaikan produk kepada pasar sasaran (aspek distribusi).
Griffin dan Pustay (1996) mengemukakan bahwa dalam merancang produk perusahaan
harus mampu mengembangkan aspekaspek berwujud (tangible) dan tak-wujud
(intangible) &dam produk agar memenuhi kebutuhan konsumen di pasar global.
Dalam ha1 harga; perusahaan harus dapat mengembangkan kebijakan harga yang
memberikan pendapatan yang bagus bagi perusahaan tanpa mengabaikan lingkungan
persaingan yang ada. Menyangkut aspek promosi, perusahaan perlu merancang
strategi yang dapat meningkatkan minat konsumen terhadap produk danlatau jasa
yang disediakan perusahaan. Akhirnya, dalarn ha1 distribusi perusahaan harus
memikirkan cara-cara untuk menyampaikan produk danlatau jasanya ke tangan konsumen
secara efektif dan efisien.
Griffin
dan Pustay (1996) selanjutnya menegaskan bahwa dalam menyusun strategi
pemasaran global ada tujuh faktor kunci yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1.
Standardisasi atau kustomisasi
2.
Hukum dan ketentuan yang berlaku di suatu negara
3.
Faktor ekonomi (tingkat pendapatan)
4.
Nilai tukar mata uang
5.
Pelanggan sasaran, industri atau konsumen akhir
6. Pengaruh budaya
7.
Persaingan.
Dengan
mengingat ketujuh faktor di atas, strategi pemasaran global dapat disusun.
2.3 MEREK
Merek
adalah produk atau jasa yang dimensinya mendiferensiasikan merek tersebut
dengan beberapa cara dari produk atau jasa lainnya yang dirancang untuk
memuaskan kebutuhan yang sama. Perbedaan ini bias fungsional, rasional dan
nyata, berhubungan dengan kinerja produk dari merek. Perbedaan ini bisa juga
lebih bersifat simbolis, emosional, atau tidak nyata, berhubungan dengan apa
yang dipresentasikan oleh merek (Kotler & Keller, 2012:263). Aaker (1991:
2) menjelaskan bahwa Merek adalah cara membedakan sebuah nama atau simbol
seperti logo, trademark, atau desain kemasan yang dimaksudkan untuk
mengidentifikasikan produk atau jasa dari satu produsen atau satu kelompok
produsen dan untuk membedakan produk atau jasa itu dari produsen pesaing.
Menurut
Kotler & Keller (2006:264), element dari merek adalah nama, simbol, logo,
desain, dan kemasan. Menurut Sutisna (2001 : 83), ada beberapa manfaat dari
brand image yang positif, yaitu :
a) Konsumen
dengan image yang positif terhadap suatu brand, lebih memungkinkan untuk
melakukan pembelian.
b) Perusahaan
dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan image positif yang telah
terbentuk terhadap brand produk lama.
c) Kebijakan
family branding dan leverage branding dapat dilakukan jika brand image produk
yang telah ada positif
2.4 IKLAN
Menurut
Peter, Olson (2000:181) iklan (advertising) adalah penyajian informasi
nonpersonal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko yang dilakukan
dengan bayaran tertentu. Jefkins (1997:18) juga menjelaskan bahwa iklan
merupakan media informasi yang dibuat sedemikian rupa agar dapat menarik minat
khalayak, orisinal, serta memiliki karakteristik tertentu dan persuasif
sehingga para konsumen secara suka rela terdorong untuk melakukan suatu
tindakan sesuai dengan yang diinginkan pengiklan.
2.5
CITA RASA
Dalam
hal produk makanan khususnya makanan instan, cita rasa dari sebuah produk ikut
mempengaruhi keputusan pembelian. Dalam persaingan bisnis internasional bidang
industri makanan instan perusahaan dituntut untuk meberikan inovasi-inovasi
dalam berbagai varian rasa sesuai permintaan konsumen. Drummond KE &
Brefere LM (2010) mendefinisikan bahwa cita rasa adalah suatu cara pemilihan
makanan yang harus dibedakan dari rasa (taste) makanan tersebut. Cita rasa
merupakan atribut makanan yang meliputi penampakan, bau, rasa, tekstur, dan
suhu.
2.6 PERILAKU KONSUMEN
Banyak
pengertian perilaku konsumen yang dikemukakan para ahli, salah satunya yang
didefinisikan oleh Engel dan kawan-kawan (1994) yang mengatakan bahwa perilaku
konsumen didefinisikan sebagai suatu tindakan yang langsung dalam mendapatkan,
mengkonsumsi serta menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang
mendahului dan penyusuli tindakan tersebut. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa
perilaku konsumen tadi terbagi dua bagian, yang pertama adalah perilaku yang
tampak, variable-variabel yang termasuk ke dalamnya adalah jumlah pembelian,
waktu karena siapa, dengan siapa dan bagiamana konsumen melakukan pembelian. Yang
kedua adalah perilaku yang tak tampak, variable-variablenya antara lain adalah
persepsi, ingatan terhadap informasi dan perasaan kepemilikan oleh konsumen.
2.7 KEPUTUSAN PEMBELIAN
Menurut
Suharno (2010:96) keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta mengkonsumsinya.
Hal ini berkaitan dalam usahanya memenuhi kebutuhan dengan tahap yang
dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk. Terdapat
empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian,
yaitu sebagai berikut:
1. Faktor
Budaya, faktor budaya seseorang mempengaruhi perilaku mereka dalam mencari,
menyelesaikan dan mengkonsumsi suatu produk, secara mendalam dan konsisten.
2. Faktor
Sosial, merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang terbentuk dan
berasal dari lingkungan sekitar. Aktivitas sosialisasi seseorang dengan
orangorang disekelilingnya sehari-hari akan membentuk pola perilaku yang khas
pada masyarakat.
3. Faktor
Pribadi, faktor pribadi yang mempengaruhi perilaku pembelian adalah usia dan
tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup dan personalitas.
4. Faktor
Psikologis, faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri seseorang dan
mementukan bagaimana mereka memilih dan mengkonsumsi produk. Pemasar perlu
memahami faktor psikologis, yang terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran,
dan keyakinan dan sikap.
BAB
III
ANALISIS
KASUS
3.1 KONSEP INDOMIE
Indomie
diklaim sebagai makanan yang sehat dan bergizi oleh produsennya. Produk mi
instan ini disebut memiliki berbagai kandungan gizi seperti energi, protein,
niasin, asam folat, mineral zat besi, natrium, dan berbagai vitamin seperti
vitamin A, B1, B6, dan B12. Meskipun begitu, konsumsi Indomie yang terlalu
sering tidak dianjurkan, sebab Indomie mengandung pewarna tartrazine yang tidak
baik bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.
Selain
dipasarkan di Indonesia, Indomie juga dipasarkan secara cukup luas di manca
negara, antara lain di Amerika Serikat, Australia , berbagai negara
Asia dan Afrika serta negara-negara Eropa , menjadikan Indomie
sebagai salah satu dari segelintir produk asli Indonesia yang mampu
menempus pasar internasional. Di Indonesia sendiri, sebutan “Indomie” sudah
umum dijadikan istilah generik yang merujuk kepada mi instan.
Harga Indomie yang ekonomis dan cita
rasanya yang telah disesuaikan dengan selera Indonesia membuat produk mi instan
ini sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan, tidak jarang warga Indonesia yang
melakukan perjalanan ke luar negeri membawa Indomie untuk mengatasi masalah
ketersediaan makanan yang praktis dan sesuai dengan selera Indonesia. Kepraktisan
dalam penyajiannya dan mudahnya pendistribusian membuat Indomie menjadi andalan
warga Indonesia saat terjadi tragedi bencana alam untuk
mengatasi masalah keterbatasan dan kelangkaan bahan pangan di lokasi dengan
segera.
3.2 VISI DAN MISI
Visi
“To Become a Total Food
Solutions Company”
Visi Indofood adalah
visi yang jelas dimana PT Indofood berusaha untuk selalu total dalam operasinya
dan memberikan solusi dari kebutuhan yang ada.
Misi
1.
Untuk terus meningkatkan rakyat kami,
proses dan teknologi kami
2.
Untuk menghasilkan kualitas tinggi,
inovatif, dan produk terjangkau yang disukai oleh pelanggan
3.
Untuk memastikan ketersediaan produk
kami kepada pelanggan domestik maupun internasional
4.
Untuk memberikan kontribusi pada
peningkatan kualitas hidup orang Indonesia dengan penekanan pada gizi
5.
Untuk terus meningkatkan nilai bagi
pemangku kepentingan
3.3 KEUNGGULAN INDOMIE
DIBANDINGKAN MERK MIE INSTANT LAIN (VALUE PREPOSITION)
1.
Indomie menawarkan berbagai cita rasa
selera nusantara dari Sabang sampai Merauke.
2.
Mie Indomie terbuat dari tepung bogasari
yang dikenal bermutu tinggi
3.
Rasa bumbu yang khas dengan kualitas
yang premium
4.
Komitmen dari Masyarakat terhadap
Indomie, contoh:
·
Sebutan Indomie dijadikan istilah
generic yang merujuk kepada semua merek mie instant di Indonesia.
·
Banyak orang membawa Indomie saat
bepergian ke luar negeri, bila makanan di luar negeri tidak cocok.
·
Saat terjadi bencana alam, orang Indonesia
sering menyumbang mie instant seperti Indomie.
·
Untuk beberapa orang, Indomie menjadi
makanan pokok dan dimakan dengan nasi putih sebagai lauk.
·
Ekuitas Pelanggan Indomie yang Tinggi
·
Indomie memiliki harga yang terjangkau
bagi konsumen, tanpa mengurangi standard kualitasnya.
·
Indomie telah memiliki brand image dan
barand awareness yang sudah melekat di pikiran konsumen mie instant di
Indonesia.
·
Indomie memiliki pelanggan yang setia.
Kesetiaan pelanggan indomie dapat terbentuk melalui pembentukan komunitas
ataupun program perlakuan khusus, contohnya: Indomie Jingle Dare dimana secara
tidak langsung meningkatkan kesetiaan pelanggan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
KESIMPULAN
Brand
Indomie produk mie instan sangat melekat di Indonesia, sering terjadinya
persaingan yang ketat dengan brand-brand lainnya melakukan persaingan strategi
yang sangat patut diwaspadai oleh indomie. Berbagai macam rasa yang telah
dikeluarkan oleh indomie dari rasa soto, cabe ijo, sambal matah, kari ayam dan
lain sebagianya dengan cita rasa yang khas nusantara untuk meningkatkan ekuitas
pelanggan dan komitmen masyakarat yang tinggi terhadap produk indomie.
4.2 SARAN
Menambah lagi kualitas
produknya dan melakukan promosi terus-menerus untuk mengidentifikasi mengenai
kebutuhan dan keinginan konsumen yang heterogen, sehingga dapat mengetahui
dengan jelas kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut sesuai dengan
karakteristik dari masing-masing atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar